TANGERANGPEDIA – Longsornya tumpukan sampah di Pintu 1 TPA Rawa Kucing, Neglasari, Kota Tangerang pada Selasa (26/08/2025) sore kembali membuka mata publik tentang rapuhnya sistem pengelolaan sampah di daerah ini. Peristiwa tersebut menghambat akses jalur pembuangan dan menimbulkan antrean panjang truk sampah. Insiden ini bukan kejadian pertama, namun selalu berulang tanpa solusi mendasar.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, TPA Rawa Kucing setiap hari menerima lebih dari 1.600 ton sampah dari 13 kecamatan. Volume yang terus meningkat ini membuat daya tampung TPA semakin kritis. Studi internal Pemkot pada 2023, bahkan sudah memprediksi bahwa tanpa adanya teknologi pengolahan sampah modern. TPA Rawa Kucing hanya mampu bertahan hingga 2027. Fakta ini kini kian relevan, setelah longsor terbaru terjadi.
Aktivis lingkungan hidup, Ade Yunus, menilai insiden longsor ini sebagai bukti kelalaian pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko bencana.
“Gak heran, sudah sering kita ingatkan untuk melakukan mitigasi potensi bencana di TPA Rawa Kucing, salah satunya rentan longsor, cuma kan ngeyel,” tegas Ade, Kamis (28/08/2025).
Ade, yang juga Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung), menyebut longsor tersebut sebagai “sirine peringatan”. Agar Dinas Lingkungan Hidup tidak lagi, menutup mata terhadap risiko di TPA.
“Ini kan sirine bagi pengelola TPA dan Dinas, bahwa potensi longsor, ledakan, dan kebakaran harus segera diantisipasi, jangan nunggu jatuh korban,” ujarnya.
Ia mengingatkan, selama revisi Perpres Percepatan PSEL (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) masih menunggu pengesahan, pengelola TPA tidak bisa berdiam diri. Ade merekomendasikan langkah teknis seperti pemadatan sampah, terasering lereng, pembangunan sistem drainase, penanaman vegetasi berakar kuat, hingga dinding penahan menggunakan teknologi geotekstil. Semua itu penting agar tumpukan sampah tidak mudah ambrol.
Masalahnya, rekomendasi serupa sudah disuarakan sejak bertahun-tahun lalu, namun hingga kini TPA Rawa Kucing tetap bergantung pada pola lama: kumpul, angkut, buang. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Pemkot benar-benar serius mengelola krisis sampah atau hanya menunggu hingga bencana lebih besar terjadi?
(Red)
















