SERANG, TANGERANGPEDIA – Seba Baduy 2026 tidak hanya menjadi magnet budaya nasional, tetapi juga menarik perhatian dunia internasional. Tradisi Seba Baduy 2026 yang digelar di Banten ini dihadiri sejumlah perwakilan kedutaan besar negara asing, menandakan bahwa Seba Baduy 2026 telah menjadi bagian dari diplomasi budaya yang diperhitungkan di tingkat global.
Sejumlah diplomat dari berbagai negara seperti Suriah, Belarus, Bosnia, Iran, Palestina, Rusia, hingga Amerika Serikat tampak hadir dalam prosesi puncak yang berlangsung di Gedung Negara Provinsi Banten, Sabtu (25/04/2026) malam. Kehadiran mereka tidak sekadar sebagai tamu, tetapi juga menunjukkan ketertarikan terhadap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang dijaga oleh masyarakat adat Baduy.
Menariknya, para perwakilan negara asing tersebut turut mengenakan pakaian adat Baduy, baik putih khas Baduy Dalam maupun hitam khas Baduy Luar. Mereka juga melengkapi penampilan dengan tas koja dan ikat kepala lomar, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi lokal. Momen ini memperlihatkan bagaimana Seba Baduy 2026 mampu menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan dunia internasional.

Pada puncak acara, Gubernur Banten, Andra Soni, menerima amanat dari 1.552 masyarakat adat Baduy yang hadir. Amanat tersebut disampaikan melalui Jaro Oom selaku Jaro Pamarentah, yang mewakili masyarakat adat dalam berkomunikasi dengan pemerintah.
Dalam amanatnya, masyarakat Baduy kembali menegaskan pesan kuat tentang pelestarian alam. Prinsip hidup yang mereka pegang, “gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak”, menjadi pengingat penting tentang keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
“Tadi disampaikan tentang permasalahan lingkungan di wilayah Kanekes. Amanah yang mereka pegang turun-temurun adalah menjaga alam agar tidak dirusak,” ujar Andra Soni.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi dengan masyarakat adat Baduy. Tidak hanya melalui momentum Seba, tetapi juga melalui koordinasi berkelanjutan dalam berbagai program pelestarian lingkungan.
Pemprov Banten juga berencana menindaklanjuti aspirasi masyarakat Baduy, termasuk rencana ritual pelestarian alam di kawasan Sangyang Sirah dan Gunung Honje. Langkah ini akan dilakukan melalui koordinasi lintas daerah, khususnya dengan pemerintah di Kabupaten Lebak dan Pandeglang.
“Kita jadikan masyarakat adat Kanekes sebagai tuntunan,” tegas Andra Soni.
Menjaga Keseimbangan Alam
Sementara itu, Jaro Oom menjelaskan bahwa Seba Baduy merupakan bagian dari rangkaian adat pasca panen dan ritual Ngalaksa. Tradisi ini menjadi sarana bagi masyarakat Baduy untuk menyampaikan amanat kepada pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
“Bagi kami, menjaga amanah adalah hal utama. Amanah ini kami sampaikan kepada pemerintah sesuai titipan lembaga adat dan instruksi Puun,” jelasnya.
Dengan kehadiran perwakilan negara asing, Seba Baduy 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya lokal, tetapi juga panggung global yang memperkenalkan nilai-nilai kearifan tradisional Indonesia kepada dunia. Tradisi ini membuktikan bahwa budaya lokal mampu menjadi kekuatan diplomasi yang membawa pesan universal tentang harmoni dan keberlanjutan.
(Red)















