TANGERANGPEDIA – Pemerintah Kota Tangerang melalui Wali Kota H. Sachrudin terus menunjukkan komitmennya terhadap pelaksanaan ibadah kurban yang aman, bersih, dan merata bagi masyarakat. Dalam momentum Iduladha 1446 H/2025 M, Wali Kota meninjau langsung sejumlah lokasi penyembelihan hewan kurban. Termasuk di Masjid Raya Al-A’zhom, dan Masjid Darul Ikhsan Cipondoh. Sabtu 7/6/2025
Wali Kota Tangerang memastikan bahwa pelaksanaan kurban di Kota Tangerang, dilakukan sesuai syariat Islam dan memenuhi standar kebersihan serta kesehatan masyarakat. Dalam peninjauannya, ia menekankan pentingnya higienitas selama proses penyembelihan, sekaligus mengawasi distribusi daging agar benar-benar tepat sasaran.
“Di hari yang penuh berkah ini, semangat berbagi dan kepedulian sosial harus tetap menjadi nilai utama. Saya mengapresiasi kerja keras panitia kurban yang telah memastikan seluruh proses berjalan sesuai syariat dan memperhatikan aspek higienis,” ujar Sachrudin saat berada di Masjid Raya Al-A’zhom.
Ia juga menegaskan bahwa, distribusi daging kurban harus menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Sebagai bentuk nyata keadilan sosial, dalam momen Iduladha.
“Distribusi daging kurban harus dilakukan secara efisien dan merata. Jangan sampai ada masyarakat yang berhak tetapi tidak mendapat bagian,” pesannya.
Di Masjid Darul Ikhsan, Cipondoh, Sachrudin menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan pemerintah pusat yang menyalurkan sapi kurban dari Presiden RI ke masjid tersebut. “Alhamdulillah, sumbangan dari Bapak Presiden ini menjadi bentuk perhatian yang luar biasa bagi warga Kota Tangerang. Semoga membawa keberkahan,” ungkapnya.
Masjid Raya Al-A’zhom tercatat menyembelih 14 ekor sapi dan 4 ekor kambing yang kemudian dikemas dalam 5.000 paket daging kurban. Sementara itu, Masjid Darul Ikhsan menerima 5 ekor sapi dan 25 ekor kambing yang distribusinya akan langsung dilakukan oleh panitia kepada masyarakat sekitar.
Dengan adanya pemantauan langsung dari kepala daerah, Pemkot Tangerang memastikan semangat Iduladha tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial dan membangun budaya berbagi yang lebih luas.
(Red)


















Comments are closed.