TANGERANGPEDIA – Bank Sampah Meranti di Kota Tangerang menjadi titik balik kehidupan Namin, seorang pria berusia 59 tahun yang menolak menyerah pada nasib. Setelah pensiun sebagai office boy di Kementerian Hukum dan HAM, Namin memilih bangkit dengan cara tak biasa: mengumpulkan sampah dan menjual kopi keliling demi menghidupi keluarga dan menjaga lingkungan. Rabu, 6/8/25
Setiap malam, tepat pukul 23.00 WIB, Namin memulai rutinitasnya. Ia mengayuh sepeda menyusuri kawasan Taman Royal, Jalan Agus Salim, hingga Benteng Betawi, mengumpulkan sampah plastik, kardus, kaleng, dan limbah rumah tangga lainnya. Kegiatan itu ia jalani hingga pukul 04.00 WIB.
“Apa saja yang bisa dijual, saya ambil. Gelas plastik, botol, kardus. Lumayan buat kehidupan,” ujar Namin, dengan senyum khas yang tak pernah lepas.
Melalui Bank Sampah Meranti yang terletak di Gang Meranti, Kelurahan Buaran, Kecamatan Tangerang, Namin menyetorkan hasil buruannya. Dari sampah yang dikumpulkannya setiap malam, ia mampu meraup pendapatan harian sekitar Rp60 ribu hingga Rp80 ribu. Dalam sebulan, hasilnya bisa mencapai Rp2,5 juta-cukup untuk mencukupi kebutuhan istri dan satu anak yang masih tinggal bersamanya.
Transisinya dari pensiunan menjadi pemulung bukan karena keinginan, melainkan kebutuhan. Namun, di balik kerja kerasnya, ia menemukan makna.
“Saya lihat banyak pensiunan tetap berkarya. Saya juga bisa. Ini bukan sekadar cari uang, tapi perjuangan dan bentuk rasa syukur,” ucapnya tegas.
Setelah fajar menyingsing, Namin beralih menjajakan kopi keliling. Ia mengambil kopi dari warung dan berjualan dengan modal semangat. Di sela-sela waktu, ia membersihkan sampah yang terkumpul semalam, lalu mempersiapkan diri untuk malam berikutnya.
Bagi Namin, sampah bukan akhir dari segalanya, melainkan peluang yang disia-siakan banyak orang. Ia mengajak masyarakat untuk memilah sampah dan tidak membuang sembarangan.
“Sampah ini enggak basi. Bisa dijual, bisa bantu hidup orang lain, dan bikin lingkungan lebih bersih,” katanya.
Lewat Bank Sampah Meranti, Namin bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga memberi contoh bagaimana usia dan keadaan tidak menjadi batas untuk tetap memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungan. Dengan semangatnya, ia menjadi simbol kecil dari gerakan besar: mencintai bumi lewat hal sederhana.
(Red)















Comments are closed.