Bogor, TANGERANGPEDIA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menggelar peringatan Hari Air Sedunia 2026 bertema Water and Gender di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Acara yang berlangsung ini langsung menarik perhatian ribuan warga karena langsung menyentuh isu krusial krisis air yang kini mengancam kehidupan sehari-hari masyarakat. Penyelenggara memusatkan kegiatan di PTPN 1 Regional 2 Unit Agrowisata Gunung Mas untuk memberikan solusi nyata sekaligus edukasi lingkungan. Minggu (5/4/26)
Dalam kegiatan tersebut, peserta aktif menanam 1.500 pohon, menyerahkan bantuan perahu karet, alat pembuat lubang biopori, serta membagikan 500 tabung biopori kepada masyarakat di 10 desa Kecamatan Cisarua. Mereka juga menggelar sarasehan langsung bersama komunitas sungai, Saka Kalpataru, dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor. Rangkaian aksi ini tidak hanya simbolis, melainkan langsung memberikan alat dan pengetahuan kepada warga agar dapat menjaga sumber air di sekitar Puncak Bogor.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa Hari Air Sedunia menjadi momentum penting untuk membangunkan kesadaran publik.
“Pagi ini kita memperingati Hari Air Sedunia di lokasi ini untuk mengingatkan betapa pentingnya fungsi air. Saat ini kita memang sedang menghadapi krisis air. Dari 70 persen permukaan bumi, hanya 2 persen air bersih yang dapat kita gunakan,” ujarnya tegas.
Diaz menjelaskan lebih lanjut bahwa air tawar yang tersedia sangat terbatas dan sebagian besar terkunci di kutub. Akibatnya, masyarakat hanya mengandalkan sungai, danau, serta air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.

Dampak nyata perubahan iklim
Perilaku membuang sampah sembarangan ke sungai, menurut Diaz, semakin memperparah krisis air tersebut. Jika sungai tercemar, suplai air bersih langsung terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serius di masyarakat. Ia juga mengingatkan dampak nyata perubahan iklim. Curah hujan ekstrem memicu banjir, sementara suhu yang meningkat mempercepat penguapan air sehingga cadangan air semakin menipis.
Sebagai solusi konkret, pemerintah mendorong penggunaan lubang biopori yang sederhana namun sangat efektif.
“Kami membagikan 500 biopori untuk 10 desa di Cisarua. Alatnya mudah dibuat, tapi mampu mengurangi risiko banjir dan menjaga cadangan air tanah,” jelas Diaz.
Selain itu, gerakan penanaman pohon menjadi pilar utama. Ia mengajak masyarakat menerapkan program satu orang satu pohon atau minimal satu rumah satu pohon agar siklus air kembali seimbang.
Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan ini.
“Kami mendukung penuh dengan menanam pohon dan menyediakan biopori agar air dapat terserap ke dalam tanah dan menjadi cadangan bagi masyarakat,” katanya.
Desmanto menambahkan komitmen perusahaan dalam pengelolaan sampah di kawasan Gunung Mas. Semua sampah operasional akan dikumpulkan dan diolah sesuai aturan lingkungan, termasuk bekerja sama dengan mitra KSO. Pihaknya bahkan akan menyediakan lokasi khusus untuk pengolahan sampah di Gunung Mas.
Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga air dan lingkungan terus meningkat. Dengan aksi nyata seperti penanaman pohon dan biopori di Puncak Bogor, Indonesia siap menghadapi tantangan krisis air dan perubahan iklim di masa depan.
(Red)

















Comments are closed.