TANGERANGPEDIA – Cisadane tercemar 22,4 km akibat kebakaran gudang bahan kimia di kawasan Taman Tekno, Setu, Kota Tangerang Selatan. Dampak pencemaran tersebut merembet ke wilayah Tangerang Raya dan menewaskan ribuan biota sungai. Peristiwa ini memicu alarm serius soal mitigasi kebakaran bahan kimia di kawasan pergudangan.
Menanggapi kondisi Cisadane tercemar 22,4 km, DPRD Kota Tangerang mendesak pemerintah segera melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusdi Alam, menilai insiden ini menunjukkan lemahnya sistem identifikasi dan pengawasan gudang penyimpanan bahan kimia.
Menurut Rusdi, persoalan perizinan bahan kimia memang berada di ranah pemerintah pusat. Namun pemerintah daerah tetap memiliki kewenangan dalam izin pembangunan serta analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Oleh sebab itu, koordinasi lintas level pemerintahan menjadi kunci dalam memperkuat mitigasi.
“Apakah gudang di kawasan tertentu wajib memiliki Amdal khusus jika menyimpan bahan kimia? Ini harus kita evaluasi. Jangan sampai kawasan hanya diberi izin umum tanpa pengawasan detail,” ujar Rusdi, Jumat (13/02/2026).
Ia menegaskan bahwa kebakaran bahan kimia tidak bisa ditangani dengan prosedur biasa. Jika proses pemadaman menggunakan metode yang tidak sesuai, zat kimia dapat mengalir ke sungai dan memperluas pencemaran. Dampak lingkungan pun menjadi jauh lebih besar dibanding kebakaran konvensional.
Karena itu, DPRD meminta Pemerintah Kota Tangerang segera mengidentifikasi dan mendata seluruh gudang bahan kimia di wilayahnya. Pendataan tersebut penting untuk memetakan potensi risiko kebakaran serta dampak pencemaran lingkungan.
Rusdi juga mengakui bahwa pengawasan kawasan pergudangan tidak mudah. Banyak gudang disewakan tanpa kontrol rinci terhadap aktivitas penyewa. Bahkan pemerintah daerah bisa saja baru mengetahui jenis bahan yang disimpan setelah terjadi insiden.
“Harus kita cek secara menyeluruh. Gudang bahan kimia ada di mana saja, bagaimana standar keamanannya, dan bagaimana sistem mitigasinya,” tegasnya.
Kasus Cisadane tercemar 22,4 km kini menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Tanpa sistem pengawasan yang ketat dan standar mitigasi kebakaran bahan kimia yang jelas, risiko bencana lingkungan serupa tetap mengintai.
Publik pun menunggu langkah konkret pemerintah, bukan sekadar evaluasi. Sebab, Sungai Cisadane bukan hanya aliran air, tetapi sumber kehidupan bagi jutaan warga di Tangerang Raya.
(Red)


















Comments are closed.