TANGERANGPEDIA – Penurunan harga Bitcoin ke level US$59.000 dalam sepekan terakhir belum membuat manajemen Strategy (MSTR) kehilangan kepercayaan diri. Perusahaan yang dikenal agresif mengoleksi Bitcoin ini, menegaskan posisi keuangannya masih relatif aman. Selama Bitcoin tidak mengalami kejatuhan ekstrem hingga menyentuh US$8.000.
Dalam laporan keuangan kuartal keempat (Q4) 2025, CEO Strategy Phong Le menjelaskan bahwa koreksi Bitcoin sebesar 16 persen masih berada dalam batas risiko yang dapat ditoleransi perusahaan. Strategy menilai volatilitas jangka pendek merupakan bagian dari siklus pasar kripto yang sudah diperhitungkan sejak awal strategi akumulasi Bitcoin dijalankan.
“Penurunan harga Bitcoin ke US$59.000 tidak membuat kami gentar,” ujar Phong Le dalam pernyataan resminya, Jumat (7/2/2026).
Menurutnya, struktur neraca Strategy masih cukup kuat untuk menghadapi fluktuasi harga di level tersebut.
Namun, Phong Le tidak menutup mata terhadap skenario terburuk. Ia mengungkapkan bahwa titik kritis perusahaan baru akan muncul jika Bitcoin anjlok hingga 90 persen dari level saat ini, atau turun ke kisaran US$8.000. Pada level tersebut, cadangan Bitcoin Strategy akan setara dengan total utang bersih perusahaan.
“Jika harga Bitcoin turun 90 persen hingga US$8.000, maka pada titik itulah cadangan Bitcoin kami hanya cukup untuk menutup utang bersih. Dalam kondisi itu, kami tidak mampu melunasi obligasi konversi menggunakan cadangan Bitcoin,” tegas Le.
Ia menambahkan, apabila skenario ekstrem tersebut benar-benar terjadi, Strategy harus mengambil langkah luar biasa. Opsi yang dipertimbangkan meliputi restrukturisasi keuangan, penerbitan saham baru, atau penambahan utang untuk menjaga keberlangsungan perusahaan.
Pernyataan ini menjadi sorotan pelaku pasar karena Strategy selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan publik dengan eksposur Bitcoin terbesar di dunia. Model bisnis tersebut membuat pergerakan harga Bitcoin memiliki dampak langsung terhadap stabilitas keuangan perusahaan.
Data CoinMarketCap catat penurunan Bitcoin
Sebagai catatan, berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat merosot ke level US$59.000 pada Jumat malam (6/2/2026). Tekanan jual dipicu oleh kombinasi sentimen global, ketidakpastian kebijakan suku bunga, serta aksi ambil untung investor setelah reli panjang di akhir 2025.
Meski begitu, pernyataan Strategy menunjukkan bahwa perusahaan masih memandang Bitcoin sebagai aset jangka panjang. Selama harga tidak memasuki zona kehancuran ekstrem, manajemen menilai risiko tersebut masih dapat dikendalikan.
Bagi investor, sinyal ini menjadi pengingat bahwa taruhan besar pada Bitcoin membawa peluang sekaligus risiko sistemik. Terutama bagi perusahaan yang menjadikannya sebagai cadangan utama neraca keuangan.
(Red)















Comments are closed.